QAWWAMUNA.COM - Banyak orang merasa lelah mental di akhir hari. Pikiran penuh dengan tuntutan kerja, ekspektasi orang sekitar, dan kecemasan tentang masa depan.
Saat seperti itu, kebanyakan orang langsung mencari pelarian. Ada yang memilih liburan, ada pula yang menghabiskan berjam-jam scrolling media sosial, berharap bisa meredakan kepenatan hati.
Tapi, apakah pelarian itu benar-benar membawa ketenangan? Atau justru kecemasan itu kembali datang lebih berat setelah kesenangan sementara itu hilang? Tulisan ini akan membahas bagaimana Islam memandang kecemasan dan apa obat yang sebenarnya.
Allah Menciptakan Dunia Bukan untuk Kesenangan Abadi
Kesalahan besar adalah mengira dunia ini tempat yang tenang tanpa masalah. Padahal, dunia dalam Islam adalah tempat ujian dan penuh kesulitan.
Allah Ta’ala berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 155:
وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَىْءٍ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِ ۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ
Artinya: "Dan Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar."
Allah juga menegaskan dalam Surah Al-Balad ayat 4:
لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي كَبَدٍ
Artinya: "Sungguh, Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah."
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ
Artinya: "Dunia adalah penjara bagi orang beriman dan surga bagi orang kafir." (HR. Muslim, no. 2956).
Dari dalil-dalil ini, kita paham bahwa mengharapkan dunia bebas dari kecemasan dan kelelahan adalah mustahil. Rasa sesak itu ada supaya kita sadar: dunia hanyalah tempat transit, bukan rumah abadi.
Manusia Sering Memilih Pelarian yang Salah
Ketika hati mulai sesak dan lelah, banyak orang mencari solusi instan yang justru merusak, seperti minuman keras, narkoba, zina, atau kemaksiatan lain.
Mengapa kemaksiatan terasa menarik saat stres? Karena tipu daya setan. Setan telah bersumpah akan menghias kemaksiatan agar terlihat indah di mata manusia.
Allah Ta’ala berfirman dalam Surah Al-Hijr ayat 39:
قَالَ رَبِّ بِمَآ أُغْوَيْتَنِى لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِى ٱلْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ
Artinya: "(Iblis) berkata, 'Tuhanku, oleh karena Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, aku pasti akan menjadikan (kemaksiatan) terasa indah bagi mereka di bumi, dan aku pasti akan menyesatkan mereka semuanya'."
Allah juga berfirman dalam Surah An-Naml ayat 24:
وَزَيَّنَ لَهُمُ ٱلشَّيْطَٰنُ أَعْمَٰلَهُمْ فَصَدَّهُمْ عَنِ ٱلسَّبِيلِ فَهُمْ لَا يَهْتَدُونَ
Artinya: "...dan setan telah menjadikan terasa indah bagi mereka perbuatan-perbuatan (buruk) mereka, lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak mendapat petunjuk."
Pelarian seperti ini hanya fatamorgana. Ia membius kecemasan sesaat, tapi kemudian meninggalkan kehancuran yang lebih dalam.
Jadikan Shalat sebagai Penawar
Lalu, ke mana kita harus mencari ketenangan?
Kabar baiknya, Allah tidak pernah meninggalkan kita sendirian. Ada obat yang ampuh, murah, dan dekat: shalat.
Allah sangat memahami kita sering merasa burnout dan sesak karena urusan dunia. Perhatikan bagaimana Allah menenangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam Surah Al-Hijr ayat 97-98:
وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّكَ يَضِيقُ صَدْرُكَ بِمَا يَقُولُونَ ۞ فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَكُن مِّنَ ٱلسَّٰجِدِينَ
Artinya: "Dan sungguh, Kami mengetahui bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan apa yang mereka ucapkan, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah engkau di antara orang-orang yang bersujud (shalat)."
Melalui ayat ini, Allah seolah berkata: “Aku tahu dadamu sesak, Aku tahu bebanmu berat. Datanglah, sujudlah, dan shalatlah.”
Shalat bukan sekadar kewajiban. Ia adalah ruang jeda yang Allah berikan agar kita bisa melepas semua beban dunia sejenak dan mengisi kembali jiwa kita.
Kesimpulan dan Faedah
- Pertama, kecemasan dan kelelahan adalah bagian alami dari dunia. Jangan pernah mengharapkan kesempurnaan di sini.
- Kedua, waspadalah terhadap “healing” yang mengandung kemaksiatan, karena itu hanyalah tipuan setan.
- Ketiga, penawar kecemasan terbaik tidak mahal dan tidak jauh: ia ada di atas sajadahmu.
Setiap kali azan berkumandang, letakkan sejenak urusan duniamu. Datanglah kepada Allah dengan hati rendah, dan jadikan shalat sebagai penawar kecemasanmu.
Oleh: Waskito Hartono, S.Th.i
Catatan ini ditulis dirumah sederhana kami di Banjarsari, Ciamis tanggal 17 Mei 2026.
Kunjungi Terus Website: WWW.QAWWAMUNA.COM
0 komentar:
Posting Komentar